Escape To The Highlands (Gempa Padang Eps.3)

Jumat siang itu cuaca cukup panas, motor Honda yang kami kendarai ini saya gas cukup kencang karena jalanan sepanjang Tabing ke arah Duku lengang dan tidak sepadat biasanya. Pas di dekat Pom Bensin Lubuk Buaya kami terjebak macet karena antrian mobil yang mengisi BBM disana meluber hampir menutupi jalan. Lepas dari kemacetan itu, balok pada panel bensin motor saya hilang satu, pertanda saya harus waspada dengan kemungkinan bensin motor habis sebelum mencapai finish di Birugo Puhun Bukittinggi. Kami melewati batas kota dan melintasi bagian bawah fly over Duku - Bandara Minangkabau di wilayah Kabupaten Padang Pariaman ini sepanjang jalan menuju Lubuk Alung yang biasanya di kanan kiri terlihat rumah-rumah dengan halaman yang luas dan ditanami pohon kelapa berubah drastis karena rumah-rumah tersebut rubuh dan di halamannya berdiri tenda darurat dari terpal yang diikat pada pokok batang pohon kelapa. Di beberapa ruas jembatan yang biasa kami lewati kini retak-retak dan bolong di sisi tepinya. Ilham yang histeris melihat pemandangan ini saya suruh istighfar dan jangan melihat kanan kiri. Di daerah Sicincin kembali terjadi antrian panjang yang saya yakini akibat antrian Pom Bensin di daerah ini. Lepas dari kemacetan panjang dan panasnya udara tepi pantai kemudian perlahan berubah ke iklim yang mulai berkurang panasnya karena kami sudah memasuki Kayu Tanam. Di Pom Bensin terakhir sebelum memasuki Lembah Anai ini saya harus menerima kenyataan pahit karena di sini bensin premium habis sementara panel bensin motor tinggal tiga balok lagi.
Jalanan cukup sepi di tanjakan Kandang Ampek karena menurut prakiraan saya pastinya arus pengungsi bergerak satu arah yakni menjauhi Padang sementara pada arah sebaliknya adalah arus bantuan bagi korban gempa. Dan memang benar di Lembah Anai antrian panjang kendaraan beroda empat sudah mengantri dan mengular hingga sebelum tugu perbatasan Kab. Padang Pariaman – Kab. Tanah Datar di simpang perkedel. Karena lajur arah berlawanan kosong melompong maka saya pun dengan senangnya memotong antrian panjang ratusan mobil yang menunggu di tengah macet hingga akhirnya sampailah di tempat pusat kemacetan yakni di tepi batu cadas yang longsor dekat tanjakan Silaing Kariang yang baru saja dibersihkan petugas PU dan dikawal polisi. Ujung dari simpul kemacetan ini adalah ratusan pengendara motor yang berusaha mencapai celah untuk melewati longsoran yang baru dibersihkan dan polisi memberlakukan sistem buka tutup untuk mengurangi kemacetan. Panel balok bensin motor tinggal duadan saya pun pasrah pada Allah dan memohon yang terbaik bagi kami di tengah perjalanan ini. Alhamdulillah kami diberi jalan dan langsung saya menggeber gas motor untuk menjauh dari bekas longsoran di belakang. Dengan memakai gigi satu, kami pun pun berjalan menanjak karena diatas kami Kota Padang Panjang menunggu.


Di antara Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, persisnya di tengah Kota Padang Panjang yang sejuk ini pun Pom Bensinnya tutup begitu juga Sate Mak Syukur yang biasanya ramai dipenuhi kendaraan (?). Akhirnya dengan menempuh konsekuensi kehabisan bensin sebelum Bukittinggi kami tekadkan niat melaju mengingat jarak kedua kota yang cukup dekat. Di perbatasan Kab. Agam – Kab. Tanah Datar saya teriakkan takbir tanda syukur karena Bukittinggi telah tampak di depan mata. Jalanan yang lurus, mulus dan sepi akibat penumpukan kendaraan yang terjebak macet nun jauh dibelakang kami membuat kami serasa raja jalanan karena berteriak senang mengingat garis finish yang makin dekat dan akhirnya selepas ashar kira-kira jam lima kami pun sampai di Birugo Puhun. Oma dan tante rini menyambut kami hangat dan segera Ilham menelepon mama yang khawatir dengan aksi kami menyelamatkan diri dari Padang ke Bukittinggi yang berakhir sukses. Malamnya saya pergi mengisi bensin di Pom Bensin Simpang Yarsi Bukittinggi, uniknya di kota ini BBM masih lancar tiada antrian seperti didaerah yang telah kami lewati tadi. Dua hari kemudian saya, ilham dan ali (teman ilham) yang baru datang dari padang naik tranex yang ikut terjebak macet di lembah anai berangkat ke terminal aur kuning melanjutkan perjalanan kami pulang ke kampung halaman ke Pekanbaru untuk sementara waktu menunggu situasi Padang kembali normal.

save your soul (Gempa Padang Eps.2)

Pasca gempa G 30 S kemarin petang, saya terbangun dari tidur dan masih tidak menyangka kalau saya sudah bangun di teras rumah. Pagi itu lagi-lagi kami dikagetkan dengan guncangan keras yang dikemudian hari diketahui bahwa gempa itu berpusat di Kerinci.

Kamis (1/10/09) pagi itu, saya memutuskan untuk pergi mengisi bensin di pom bensin by pass dekat RS Semen Padang. Alasan saya kemari mengingat kawasan kota padang tentunya agak kacau akibat gempa semalam sehingga lebih baik mengisi bensin di pom bensin yang agak jauh dari pusat kota namun terjangkau dari posisi kami di banda bakali andalas. Saya pergi bersama hendra kesana dan ternyata memang sudah tampak antrian di pom bensin itu. Ternyata pemilik pom bensin belum bersedia untuk mendistribusikan minyak disana dan sempat terjadi keributan dengan pemilik kendaraan yang mulai kehilangan kesabaran. Akhirnya pihak kepolisian datang turun tangan menengahi masalah ini dan memberi solusi bensin dijatah hanya Rp. 5000 per motor. Panel bensin di motor Honda saya sebenarnya masih menunjukkan tiga batang, akan tetapi demi mengingat kemungkinan yang akan terjadi memang lebih baik bensin cepat diisi karena hal ini adalah kebutuhan pokok paling primer bersama bahan makanan. Untungnya karena diisi bensin goceng panel bensin kembali full, di pom bensin ini saya bertemu juga dengan Fauzan dan Fitri serta sepupu saya Yandi yang ikut ngantri mengisi bensin. Dari by pass ini saya dan hendra bergerak ke arah tunggang di jalan menuju kampus unand. Disini kerusakan akibat gempa tidak terlalu parah karena masyarakat asli tunggang masih banyak yang menggunakan rumah gadang-rumah gadang tua khas pesisir Sumatra Barat yang tidak bergonjong, lagipula bangunan yang runtuh rata-rata rumah batu atau ruko bukan rumah kayu. Disini kami menemukan kedai nasi yang masih buka dan dengan sabar kami menunggu uni disana memasak nasi dan sambalnya karena waktu itu listrik belum menyala jadinya mereka memasak dengan cara tradisional. Untunglah uni tersebut tidak menaikkan harga makanan di warungnya itu, yang paling dikhawatirkan pasca bencana memang masalah sensitif ini karena hukum ekonomi mengajarkan tentang permintaan yang banyak sementara barang yang tersedia menipis dapat mengakibatkan harga barang jadi melonjak.

Siang harinya, saya dan hendra membantu da raf membersihkan puing-puing tembok yang berserakan, setelah itu kami pergi ke rumah kontrakan lama karena kuncinya masih saya pegang. Kami melewati pinggiran banda bakali melihat banyak bangunan yang roboh disana dan akhirnya belok kanan masuk ke jalur dua polamas tempat rumah kontrakan lama kami. Tembok belakang rumah ini roboh, untung rumah tersebut dalam kondisi baik. Air di bak mandi masih tersisa dan kami pun bergantian membersihkan diri disana. Malam harinya, ilham dan hendra pergi membeli nasi goreng langganan kami di dekat jembatan kuranji by pass. Setelah makan malam saya dan vino pergi ke sawahan untuk mengetahui kondisi kawan kami sesama anak pekanbaru yang ngekos disana. Jalanan sepanjang simpang haru-sawahan gelap gulita, walau begitu saya dapat melihat reruntuhan ruko-ruko disana seperti ruko Honda simpang haru, Suzuki sawahan dan didepan ruko adira sawahan banyak orang berkerumun dan ada ekskavator yang bekerja diterangi lampu penerang. Ada kabar bahwa disana masih terdapat korban gempa yang masih terperangkap direruntuhan ruko. Di belakang apotek sawahan tempat kos si Al dan si jek serta bang ade duduk-duduk dan menyapa kami hangat. Mereka membicarakan rencana untuk menyelamatkan diri dari kota padang untuk kembali ke pekanbaru mengingat situasi yang tidak memungkinkan saat itu. Pulang dari sawahan, kami memberanikan diri tidur di kamar karena serangan nyamuk di luar makin menjadi-jadi. Sinyal hape yang masih hidup saat itu hanya xl si hendra dan kartu as ilham, sementara simpati milik saya dan vino sinyalnya hilang tak berbekas dan tentunya menghalangi komunikasi kami lagipula listrik untuk ngecas masih belum menyala. Melalui hape ilham, mama di pekanbaru menyuruh kami pulang segera karena berita di teve mengabarkan kerusakan parah kota padang dan ada kemungkinan wabah penyakit akibat banyaknya korban yang masih belum terselamatkan di puing-puing reruntuhan. Sebenarnya saya menolak untuk pulang karena merasa masih dapat bertahan di padang dan yakin listrik secepatnya menyala, namun ilham mendesak dan sudah gatal karena belum mandi sejak gempa akhirnya saya memutuskan untuk mengungsi ke rumah kak ade di Lapai untuk selanjutnya pulang ke pekanbaru karena kebetulan orang tuanya sedang di padang dan membawa mobil kijang pula.

Jumat (2/10/09) pagi, saya dan ilham pamit pada da raf sekeluarga dan teman-teman di kontrakan. Kami merencanakan untuk melihat kondisi kota padang dua hari pasca gempa. Saya mengaktifkan hape yang sudah dua hari saya matikan untuk memfoto kerusakan akibat gempa yang kami temui sepanjang jalan. Kami start dari banda bakali andalas menuju arah kampus unand limau manis dengan rute Andalas – Anduring – Tunggang - Pasar baru – Kapalo koto - Kampus unand limau manis. Di kampus, saya sempatkan mengabadikan kerusakan akibat gempa yang rata-rata pengelupasan dinding batu pada sebagian besar bangunan unand yang khas dengan lapisan batu koral sehingga compang-camping memperlihatkan batu bata yang juga retak-retak. Setelah itu, kembali turun ke rute yang tadi sampai menyeberang di jembatan andalas - simpang haru - sawahan – sudirman – ratulangi – damar – Plaza Andalas (pemuda) – taman melati – jl. Gereja – jl. Bundo kandung – belok ke samping SD Agnes ( saya tidak tahu kalau didepan Hotel bumiminang dan Hotel ambacang menjadi titik pemberitaan gempa padang ) – pondok – mutar di depan toko roti Hoya – cokroaminoto – nipah – taplau ( jl.samudera/pantai padang ) – A.yani – sudirman – rasuna said – khatib sulaiman ( hampir semua gedung perkantoran di khatib rubuh ) – Simpang presiden ( melihat sebentar proses evakuasi korban gempa di reruntuhan gedung LBPP LIA padang ) – jl. Joni anwar – finish di wisma indah 2 rumah kak ade.

Disini kami bertemu dengan semua cucu-cicit alm.H.Salim yang kebetulan sedang di padang maupun yang lagi kuliah di padang ini. Abrar, sepupu saya yang kuliah di universitas bung hatta bercerita tentang upayanya melarikan diri dari pinggir kampus bung hatta di ulak karang yang berada di tepi laut menuju arah perbukitan di by pass. Begitu juga keluarga kak ade yang berusaha mencapai gunung pangilun, tak lama Yandi pun tiba. Saya yang berharap kalau kami sekeluarga akan cepat meninggalkan padang sempat kecewa karena mobil kijang om cok belum diisi penuh bensinnya. Sementara itu, mereka berencana pergi ke lubuk minturun untuk mandi dan mengambil air bersih. Setelah jumatan di masjid imaduddin yang berantakan akibat pecahan kaca dan dinding marmernya, saya menelepon mama melalui hape ilham. Mama menyuruh kami pulang saja naik travel, namun saya menyanggah karena hampir semua travel pastinya dipenuhi calon penumpang. Mama menyarankan naik tranex saja ke bukittinggi, disinilah muncul ide nekat saya untuk pergi ke bukittinggi naik motor Honda. Di rumah kak ade, setelah berdebat dengan tante yet, om cok dan kak ade sendiri tentang kemungkinan longsor di lembah anai akhirnya saya putuskan untuk pergi ke bukittinggi hari itu juga bersama ilham. Mama pun marah-marah ditelepon dan tidak mengizinkan kami pergi naik motor tapi keputusan saya dan ilham sudah bulat.

Alasan kami segera ke bukittinggi:
 Bukittinggi relatif aman dari gempa laut, kecuali gempa vulkanik
 Oma dan tante rini tinggal di birugo
 Walaupun jalan di lembah anai ditutupi longsor, pastinya PU ( kimpraswil ) tak akan tinggal diam karena jalan ini urat nadi paling vital di Sumbar
 Kalau longsor belum dibersihkan juga, kami dapat menginap di rumah Abo yusfian di daerah Kandang ampek dekat lembah anai
 Dari bukittinggi bisa menyeberang ke pekanbaru
 Ini yang paling saya khawatirkan sekaligus saya harapkan : Honda Supra X 125 R BA 5853 SY yang setia menemani saya selama di padang dengan ketangguhan mesin dan irit bensinnya, lagipula panel bensin motor saya saat akan berangkat masih full.
Akhirnya dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, sekitar pukul 14.00 WIB kami menuju garis finish di Birugo Puhun Kota Bukittinggi dan kupacu gas ditangan ini menjauhi Padang Kota Tercinta.

(bersambung lagi..)

Akrab dengan Gempa (Gempa Padang Eps.1)

30 September adalah tanggal keramat bagi setiap insan yang kebetulan sedang berada di wilayah Padang dan sekitarnya. Tepat pukul 17:16 WIB, gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang Pariaman, Padang dan Pesisir Sumatera Barat. Awalnya klaim dari BMKG gempa tersebut berkekuatan 7,6 SR. tapi bagi saya pribadi rasanya lebih dari 8 SR…maklum, pasca gempa+tsunami Aceh, Padang kian akrab dengan gempa. Apalagi setelah Nias digoyang gempa setahun setelah Aceh. Metro TV malah memberikan laporan yang membuat jantung warga Kota Padang copot dengan headline “Kemana Gempa Setelah Aceh – Nias?” berlatar gerbang perbatasan Kota Padang-Kabupaten Padang Pariaman.

Sebelumnya, 6 Maret 2007 pernah terjadi gempa di Solok yang merambat hingga ke Padang. Pagi itu, saya dan teman-teman kelas 3.4 FHUA berkesempatan kuliah teleconference dengan Prof. Muladi bersama 4 Perguruan Tinggi lainnya. Tempatnya di Ruang Multimedia Lantai 4 Pustaka Pusat. pertama kali terasa guncangan jam 10:30 saat itu guncangannya hanya sekeras guncangan seperti mengerem mobil secara mendadak. saya ingat si Edo langsung loncat dari tempat duduknya sambil berteriak, “Gempaaaa..!!” tapi karena guncangannya hanya sesaat dan dirasa tidak membahayakan kami hanya tertawa saja melihat tingkah laku Edo yang segera duduk tersipu malu. Terus terang kuliah teleconference agak membosankan bagi saya karena hanya menyimak layar tancap yang menampilkan pembicara utama dan empat potongan kecil yang menampilkan asal dari Perguruan tinggi yang mengikuti kuliah tersebut. akhirnya saya dan beberapa rekan-rekan yang boring memilih duduk selonjoran dibelakang. Kira-kira jam 10:52 ruangan tempat kuliah kami yang 22 menit sebelumnya serasa kabin mobil yang direm mendadak berubah menjadi kabin pesawat A380 yang ngerem mendadak di Bandara Rokot, Mentawai (hehe). Insting ataupun naluri orang yang acap kali digoyang gempa (apalagi bila getarannya keras) adalah melompat atau berdiri dan mengingat dengan seingat-ingatnya jalan masuk ke ruangan tempat dimana orang itu berada pada saat gempa karena otomatis itu menjadi jalan keluar. Teman-teman yang panik tunggang langgang menuju ke pintu keluar, mengingat kami di lantai 4 Pustaka Pusat tidak sedikit mahasiswi ini yang histeris seandainya Gedung Pustaka 7 lantai ini rubuh menimpa kami. Saya yang selonjoran didinding belakang cuma dapat berdiri sambil menenangkan mereka dengan ucapan yang lumayan menghibur,” Tenang-tenang, kita kan pakai Semen Padang.” Dikemudian hari, Cici dan Vonny yang mengingat ucapan saya tak henti-hentinya mengolok-olok saya yang masih bisa ingat Semen Padang ketika yang lain panik digoyang gempa. Alhamdulillah kami selamat sampai di tanah lapang antara Pustaka Pusat dan gedung F. Disini guncangan gempa susulan masih terasa dan tingkat kepanikan mahasiswa/i Unand dapat terlihat dengan jelas karena Bukit Limau Manis yang terasa sepi di jam-jam kuliah karena mahasiswa lebih banyak beraktifitas di dalam gedung masing-masing tumpah ruah dan memadati tanah lapang disekitar gedung kuliah. Gempa yang sama kuatnya kembali terjadi jam 12:50 ketika saya dan teman-teman kembali ke Dekanat FHUA setelah dari Pustaka Pusat tadi. Guncangan yang keras mengakibatkan jendela-jendela ruangan dekanat terbentur keras dan membuat kami lari ketakutan mencari tempat yang lapang dan aman.


Ya, tanah yang lapang serta aman dari pohon, tiang listrik atapun rumah dan gedung-gedung tinggi adalah tempat istimewa ketika gempa terjadi. Cara mencapai tempat-tempat seperti itu pada saat gempa seperti cerita yang saya utarakan tadi dengan adanya insting tadi. Misalkan kita sedang berada di ruangan kantor dan tiba-tiba terjadi gempa. Untuk mengingat himbauan pemerintah yang menganjurkan segera menempati kolong meja saja saya yakin banyak yang tidak patuh. Hal ini mengingat besarnya resiko apabila ruangan tersebut ikut runtuh dan kita dapat terjebak dikolong meja hingga saat yang tidak dapat ditentukan. Oleh sebab itu, tempat parkir, tanah lapang, atau minimal halaman rumah dan jalanan adalah tempat aman yang ideal ketika gempa mengguncang. Tak ayal bila lagi apes, koridor-koridor ruko, hotel atau bangunan yang rubuh kena gempa berisi korban gempa yang berusaha mencapai titik aman tersebut. Setelah gempa mereda, kekhawatiran paling besar berikutnya adalah tsunami. Tsunami biasanya datang dalam hitungan 10 menit atau lebih pasca gempa. Tak heran setiap gempa usai, warga Kota Padang langsung berlarian menuju satu arah yakni perbukitan dan menjauhi Tapi Lauik secepatnya. Lokasi yang paling favorit tentu saja Kampus Universitas Andalas di bukit Limau Manis. Dari sini dapat dilihat situasi Kota Padang mulai dari Indarung, Teluk Bayur, Kota hingga Tabing tentunya dengan horizon Samudera Hindia yang mengagumkan sekaligus menakutkan bila benar tsunami menerjang. Selain itu kawasan PT Semen Padang di Indarung, Lubuk Minturun, Gunung Pangilun dan sekitarnya juga menjadi serbuan warga Padang dari ancaman tsunami.

Kembali ke Gempa 30 September 2009. jam 4 sore itu masih terdengar azan ashar ketika saya dan Hendra baru saja memasang tiang antena TV karena saya baru saja pindah kontrakan 2 hari sebelumnya. Setelah shalat ashar, saya meminjamkan motor karena Hendra mau mencari makan. Kemudian saya berbaring lelah dan tertidur setelah sebelumnya mencharge HP. belum saya tertidur tiba-tiba saja dikejutkan dengan guncangan keras yang memaksa insting ini menarik saya keluar dari alam mimpi kembali ke dunia nyata dan memerintahkan kaki untuk berlari keluar rumah. Untunglah saya tiba dengan selamat di depan rumah kontrakan itu dan terkejut bukan kepalang karena guncangannya makin keras dan menjadi-jadi. Tanah tempat saya berdiri ini bergetar hebat disertai bunyi keras guncangan pot bunga, kusen pintu dan jendela, bunyi genting dan atap yang saling menubruk dan bunyi guncangan aneh yang saya rasa dari dalam perut bumi seperti dentuman keras yang berbunyi selama gempa terjadi. Ajaib, karena mata saya yang min.10 ini dapat melihat jelas tiba-tiba. Tetangga sebelah yang sedang menggendong anaknya yang ketakutan memegang tangan saya dan baru saya sadari bahwa tanah tempat kami berpijak ikut bergetar keras dan membuat kami bak bule yang berdansa di atas karpet Aladdin. Tentunya kami terjatuh dan disela-sela menyebut asma Allah saya menyesal juga HP yang biasanya stand by di saku kiri celana ini sedang dicharge padahal cukup menarik bila saya dapat merekam kejadian ini dan mengirimnya ke Metro TV atau TV One. Setelah gempa mereda, langkah selanjutnya adalah memutuskan aliran listrik apabila kita sedang berada di rumah saat gempa itu terjadi. Hal ini untuk menetralisir kemungkinan konsleting yang dapat menyebabkan kebakaran. Kemudian saya bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil kacamata, HP dan Laptop serta memasukkannya kedalam tas eiger bersama draft skripsi dan dokumen penting lainnya.




Tak lama kemudian, Uda Raf dan Bu Eeng (pemilik kontrakan) tiba dari Pasaraya, sembari mengatakan bahwa Suzuki Sawahan dan Honda Simpang Haru sudah mencair begitu pula Masjid Muhammadiyah di depan Stasiun Padang. Kaki Da Raf sendiri terluka karena tertimpa ranting pohon ketika melintas di Sawahan. Bu Eng dengan tergesa-gesa masuk ke rumah dan mengambil surat-surat berharga kemudian bergegas mengajak saya ikut serta mengungsi ke Atas/Ateh (sebutan untuk wilayah perbukitan Kota Padang) atau ke Kampus Unand yang memang menjadi lokasi favorit pengungsian warga Padang. sebenarnya saya ingin juga berangkat mengungsi, akan tetapi motor saya masih dipinjam Hendra dan tak tahu bagaimana nasibnya di tengah kekacauan seperti ini. Belum lagi memikirkan adik saya satu-satunya Ilham yang mungkin sedang kuliah ketika gempa terjadi. Saya hanya berdoa semoga mereka baik-baik saja dan bila ada kesempatan tetap bertahan di posisi masing-masing karena kemungkinan bila Tsunami benar datang, mereka insya allah dalam keadaan aman. Setelah Da Raf dan keluarganya pergi mengungsi, saya kebingungan juga mengingat rumah kontrakan kami yang kosong dan berantakan. Untunglah Hendra datang dengan membawa motor saya. dia bercerita ketika sedang makan tiba-tiba gempa mengguncang dan membuat berantakan RM Padi Rimbun, belum lagi motor saya yang diparkir terjatuh ditimpa motor lainnya. untung saja tidak ditimpa tembok bangunan. Kami memutuskan untuk tetap bertahan di sana karena jalanan padat oleh arus kendaraan menuju kampus. dan Hendra agak kesulitan tadi karena melawan arus. kemudian kami pergi ke tepian Banda Bakali tak jauh dari kontrakan sambil melihat-lihat apakah air sungai disana surut atau tidak. Jika surut berarti tandanya Tsunami segera tiba. Ternyata air sungai tetap stabil dan saya pun merekam kehebohan disini.

Setelah maghrib kami bergegas kembali ke kontrakan sambil mengeluarkan karpet milik Robi yang dititipkan dari kontrakan lama kami. sambil duduk-duduk mengobrol bersama tetangga yang ikutan nongkrong didepan rumah masing-masing sambil menyaksikan kabar petang TV One dari HP seorang tetangga yang dapat mengakses siaran TV dari HP nya kami dapati informasi tentang pusat gempa di barat Pariaman yang berkekuatan 7,6 SR dan memastikan Kota Padang lumpuh total serta terputusnya jaringan komunikasi. Ilham datang bersama seorang temannya dan menepuk pundak saya. Saya bersyukur kami dapat bertemu dalam keadaan sehat wal afiat. Dia menceritakan ketika gempa terjadi baru saja keluar dari Lab. Farmasi dan ketika guncangan terjadi sedang berada di sisi Rektorat Unand yang menghadap kearah Kota Padang. Lanskap Kota Padang yang tampak dari sana dipenuhi abu pekat seakan-akan Padang jatuh ke bawah tanah (saya menduga hal itu akibat ambruknya ruko dan bangunan disekitaran Pondok, Muaro dan wilayah Padang lainnya). Ilham dan beberapa temannya memutuskan untuk turun ke Bawah berjalan kaki sejauh kurang lebih 18 km. untuk memastikan saya dalam kondisi aman. Ilham khawatir bila terjadi hal ynag tidak diinginkan pada diri saya karena waktu gempa tadi adalah jam tidur siang saya.




Malam itu kami mencoba tidur di Beranda rumah karena hujan mulai turun dan keadaan sangat gelap di luar. Da Raf dan keluarganya kembali tak lama setelah hujan turun dan ikut bergabung sambil mendengarkan radio RRI Padang yang masih mengudara. Walikota Fauzi Bahar tak henti-hentinya menyemangati warga kotanya yang kelimpungan bak diterjang Sang Garuda sambil memohon bantuan perusahaan yang memiliki alat-alat berat untuk membantu proses evakuasi korban gempa yang diperkirakan masih tertimbun reruntuhan seperti di Hotel Ambacang, Bimbel Gama di Jl. Proklamasi ataupun di STBA Prayoga dan tempat-tempat reruntuhan lainnya. Saya masih ingat himbauan Pak Wali yang meminta anak-anak sekolahan untuk mengumandangkan asmaul husna. Malam itu saya tidur pulas sekali walaupun diberanda rumah dalam keadaan baru 2 hari pindah kontrakan (belum menitipkan fotokopi KTP kepada Pak RT), dikelilingi nyamuk-nyamuk nakal, diguyur rinai hujan dalam kegelapan kota yang menambah dingin malam itu dan ditemani nyaring suara ambulans yang hilir mudik serta gemuruh pesawat terbang diatas kepala seakan tak henti-hentinya untuk berhenti. Malam itu Kota Padang tak sesepi biasanya yang seakan-akan tutup jam 9 kini menjadi 24 jam. Malam itu terasa sangat panjang. (Bersambung)

ade rai

Malam minggu yang indah di sudut Grand Indonesia. saya duduk di meja bersama adik-adik, Nadhir dan Dira minkmati smooch yoghurt sambil melihat lalu lalang kerumunan pengunjung mal tersebut. Ada satu sosok terkenal yang lewat tak jauh dari tempat kami duduk. spontan, saya berbisik pada Nadhir.

Saya(S) : “ Nad, ada Ade Rai.”
Nadir(N) : “ Eh iya, Ade Rai…Ade Rai.” sambil menunjuk-nunjuk.
Dira(D) : “ Hah? Ade Rai..,” teriak-teriak juga. “Ade Rai itu siapa sih?”
N : “ Ade Rai itu petinju.” teriak lagi.
S : “ bukan, perenang.”
D : “ @#$%*&??”

Untunglah Mas Ade Rai tidak sempat mendengar celotehan bocah-bocah malang ini. hehehe



Mengingat Kembali


kurang lebih 4 tahun kuliah di Padang membuat pengalaman saya semakin bertambah tidak hanya  dari sisi akademis tetapi juga hal-hal terkait lingkungannya yang menurut saya agak sedikit berbeda dari tempat lain di Indonesia ini. Padang selain terkenal sebagai destinasi wisata juga merupakan kota pendidikan yang terjangkau dan berkualitas di Pulau Sumatera. bayangkan saja, biaya pendidikan saya di Kampus Unand dengan BP 2005 ini  cukup membayar uang semester Rp. 450.000 tanpa uang SKS. otomatis pengeluaran hanya living cost, seperti makan sehari-hari, sembako dan tempat tinggal. cukup susah juga mencari kosan atau kontrakan bagi Laki-laki disini. saya dapat survive disini dengan bermodalkan uang 1 juta dari pensiunan kakek yang ditransfer ke rekening BM saya. selanjutnya tiap bulan dari `pitih gaji` itu saya transfer agak seratus hingga dua ratus ribu ke rekening taplus mahasiswa BNI. ditambah uang transfer dari sanak saudara yang kadang saya tambahkan ke BNI tersebut alhamdulillah tidak perlu mengantri tiap awal semester karena sudah dipotong `ampek satangah` dari BNI kampus. siasat seperti ini memudahkan saya dari antrian panjang pembayar SPP dan tentunya memiliki cukup banyak waktu untuk berlibur di Pekanbaru…
kalau sudah di Pekanbaru, terkadang saya sulit juga melupakan Padang. kuliner khasnya yang hanya dengan membayangkan saja bagi kita yang pernah mencicipi masakan Padang pastilah membuat mulut tergenangi liur. seingat saya, tiap pagi menu sarapan saya yakni lontong sayur dekat kosan di Jl. Azizi, atau kalau sempat sarapan soto di Barak F Kampus Unand. siang hari biasanya makan nasi padang. tempat yang pernah saya jajal di Limau Manis  selain Barak F yakni kafe Salsa di Faperta, kafe Fisika, kafe Kimia dan Farmasi, kafe di Gedung TI-TL dan kafe di Labdas. kafe Hukum dan Barak Ni Tis dibelakang D III ekonomi juga lumayan lah. yang paling sreg bagi saya adalah Barak Asrama. disini selain harga nya miring juga dapat makan sambil melihat2 pemandangan alam. Barak Asrama di depan Asrama JF sulfur misalnya berada di tepi jurang yang menghadap ke kampung batu busuk.

stadion m yamin sijunjung

dilatar belakangi papan skor dan bukit barisan...

tribun utama terlihat sesak tapi...rumputnya itu lho..


lapangannya bagus, pemandangannya cantik, udaranya sejuk, penontonnya kreatif (tidak hanya melempar pemain lawan dengan botol aqua tetapi dengan limau purut).

stadion m yamin terletak di pusat kota Muaro ibukota Kabupaten Sijunjung yang menjadi homebase sementara tim PS Semen Padang.

perjalanan kesana memerlukan waktu kurang lebih 3 jam dari Padang. saya berkesempatan menyaksikan partai seru antara Semen Padang vs Persita Tangerang yg berkesudahan dg kemenangan SP 3-1....

album foto






waw udah lama gak posting-an neh, sekarang ge upload foto buat ngirim link ke SCC,, biz gak tw gimana yah dimanfaatin ajalah blog pribadi ne, hehehe

review 3 bulan ne

waduh,,,ky mibta maaf banget neh udah 3 bulan gk ngisi blog,,selain didera kesibukan(halah..) juga akibat penyakit malas ya gimana seh ne blog gk bisa dikasiin komentar..tapi gpp deh ky kasi beberapa review yg udah lupa2 ingat neh...

  • maperca permahi dpc padang
pada tanggal ?? ky ikut maperca permahi dpc padang di BLPT Lubuk Lintah depan IAIN Imam Bonjol...hmmm sebenarnya acara ini bak mambangkik batang tarandam gitu biz nya dulu sudah ada juga org ini di mpadang tapi sejak akhir dekade 80an break..

d last terpilihlah bung hendra'cikoci'mardika sbg plt dulu dehh... congratulation yo angku !!
smoga permahi ne tetap di khittahnya sbg org kader profesi hukum yg non partisan...

  • uang SP-SPP 07
pada hari senin ntah tgl brapa yg jelas besoknya ada uas 3 matkul pula tu,,,tiba2 pak pres fhua dtg ke kos utk memberi mandat (cape degh,,,)utk datang jam 2 ke sekre bem kmdi pkm unand yahhhh..briefing nya seh utk ikut membahas kenaikan uang sp dan spp yg kelebihan bgt tuh bwt kita2 ,, dikarenakan pak pres ada masalah pelik mengenai internal fhua jadi diutuslah ky,,padahal ky dari depkumdang tapi gpp degh nambah2 pengalaman..ky ke sana bareng bung fatar .... di pkm tu lgsg ke sekre bem km dan kami di sambut hangat pak pres bem km & wakilnya,,, setelah semua utusan bem fakultas tiba dan briefing selesai kami lgsg ke rektorat unand utk bertemu pak rektor dan jajarannya,,
kami rapat di ruang lancip yg panjang di lantai 4 rektorat {klo liat gedung rektorat tuh kan kek rumah gadang hasil modif jadi di atap lancip sebelah kiri nya itu lho}
memang seh kita (unand) sebetulnya butuh dana ya utk operasional dll. memang seh perhatian pemerintah gk seperti yg diharapkan utk masalah hal ginian tapi menurut ky seh ini bakaln memberatkan juga lho bagi mhs yg kurang mampu,,, at least kebijakan ini tetap jalan dan bagi mhs 07 dpt meminta keringanan bagi yg krg mampu....

mungkin cukup sekian dulu blog dari ky,,kpn2 ky cerita lebih banyak ge...

wassalam


kali ini ky menampilkan foto udara dari The Minangkabau Highlands keren gak? btw neh pas libur semester 1 dulu ky sempat naik pesawat dari padang ke medan,, critanya tuh MIA alias BIM atau Bandara Minangkabau di Ketaping baru aja diresmiin ma SBY bwt gantiin Tabing yg udah gk layak ge,, trus kebetulan ky lu2s spmb di padang ne jadi award bwt ky dari ne2k di medan ya naek pesawat dari airport baru(BIM) cihuuuuyyy
and the story goes..memang se BIM ne bagus gedungnya tapi ada beberapa kesalahan yg males gw omongin di blog ne,, tapi ya garbarata nya tuh transparan gitu gk kek di cengakareng yg serasa masukin kontainernya truk sebelum kita masuk ke pesawat gitu...
tapi iya loh pemandangan di luar tu keren abizzzz!!!!
baru take off 5 detik aja udah nampak tu pariaman n de beautiful beachnya...trus gk lama pilotnya langsung bicara ma penumpang gini : "assalamualaikum para penumpang,,di sebelah kanan anda dapat menyaksikan pemandangan gunung singgalang-gunung merapi, padangpanjang, dan kota bukittinggi..oh ya dan juga danau maninjau.." busyettttt!! ky yg du2k di sisi kiri cuma bisa gigit jari sambil curi2 pandang ke arah kaca sebelah kanan yg hampir gk nampak ge tapi pas hampir nyampe di medan, penumpang di sisi kiri akhirnya bisa bernapas lega tatkala pilot bilangin klo kami bisa ngeliat danau toba+pulau samosir,,,,.

..............

kata teman2 yg anak jakarte seh klo maw landing ke BIM viewnya bagus juga tuh,, pulau2 dilepas pantai barat sumatra gitu loh??!!

..............

kembali ke medan,,pas mw balik ke pekanbaru ky juga naik pesawat ge..biz nya penasaran juga cZ beberapa bulan sebelumnya ada pesawat yg jatuh di Jl. Jamin ginting selatan Polonia yg menewaskan beberapa penumpang dan warga sekitar termasuk gubernur sumut saat itu..
nah pas mw take off tuh ky juga ngitung klo hampir 5 detik kita bisa melihat ke bawah tuh jalan dan ada perumahan citra land jadi kesimpulan ky ya gk berapa lama dari take off lah..
pada kesempatan kali ini ky dapat du2k persis di sisi kanan dan di tepi jendela,, but Unfortunately pemandangan mpe pku tuh BORING-IN bgt!!yg ada cuma hamparan kebun sawit dan hutan2 gundul,, paling sedikit surprise liat komplek perkantoran kab.Pelalawan di Pangkalan Kerinci, ladang minyak di Minas dan sedikit penampakan kawasan Pekanbaru selatan (simpangtiga dan marpoyan) sebelum akhirnya bener2 landing di SSK II..

.....................

bisnis koran di riau

ada hal yg menarik pas gw plg ke pku kemarin yaitu ada surat kabar baru yg berjudul tribune pekanbaru nah...ne koran memang benar2 lain dari riau pos grup yg selama ne jadi referensi bagi masy. riau ,,, harganya 1000 perak?!!(ripos ja 3500 skrg) dari info nya berasal dari kompas-gramedia grup dan beda banget dengan riaupos... yang jelas pemberitaan di riau ya tidak selamanya didominasi RPG deh biz nya terkadang isi koran tuyg baek2 dari pemda aja dan sedikit kontranya padahal banyak lho ketidakadilan terjadi di bumi lancang kuning tercinta..yg jelas smoga makin objektif dan bertanggungjawab aja deh bagi media2 di riau dan membawa aspirasi warga tentunya,,,

???

pada kesempatan kemarin gw ke pku,kebetulan ada unri fair dan disana ketemu ma kawan2 lama. ada beberapa kawan yg udah ngebuka blog ini dan heran karena di BEM Fakultas koq ada menteri segala? nah ada yg perlu kawan2 ketahui klo di fakultas hukum universitas andalas kami memakai pemerintahan yg berdiri dibawah kepemimpinan seorang presiden atas amanat konstitusi negara mahasiswa FHUA,,
nah,,ada beberapa BEM di lingkungan fakultas diUnand yg dipimpin presiden/ketua BEM seperti hukum,fisip, FK dll..dari beberapa BEM fakultas itu ada yg pisah dg BEM Universitas karena memang tidak pernah bersatu sejak dulu. FHUA sendiri berdasrkan musyawarah mahasiswa fakultas thn 2004 memilih berdiri sendiri..
memang seh klo diceritakan panjang lebar bakal jadi perdebatan yg sangat hangat nantinya tapi gw baru bisa jelasin sgini aja dulu..
yg jelas menyikapi masalah status negara mahasiswa FHUA ini makin mencerdaskan pola pikir mahasiswa lho!!ada yg bilang pengkhianat lah, negara dalam negara lah, asyik memang untuk berdebat karena masing2 punya argumen yg berbeda2 dan sekali lagi menambah daya adrenalin kita dalam berpikir kritis khas mahasiswa tentunya,,,

..................................

kapan2 ky sambung ge yah.....

beruntun

aneka musibah yang menimpa tanah jawa dimulai dari (klo gk salah) letusan gunung kelud,berturut-turut letusan papandayan, erupsi merapi, lumpur lapindo, tsunami pangandaran,gempa jogja-jateng truss,,banjir jakarta (keknya ne bukan) yg jelas kata para ahli semuanya memiliki keterkaitan satu dan yg lain..

yowww

sekarang di sumbar,,mulai dari mana yah?? oh ya kejadian yg paling gres mungkin dimulai dari terbakarnya istano basa pagaruyung 27 februari,,seminggu kemudian gempa Sumbar,sebelumnya ada beberapa kali longsor di beberapa tempat..terakhir gelombang pasang
yg mengakibatkan rusaknya beberapa tebing pantai barat sumatra,,di taplau aja saking dahsyatnya tu gelombang mpe jalan samudra (taplau) berlapis pasir akibat terjangan gelombang pasang tsb,

yg jelas semua musibah beruntun yg menimpa kita disikapi positif aja,,cobaan ini adalah
peringatan dari Allah SWT agar kita makin mendekatkan diri padaNya klo gk percaya ada tuh setelah gempa jam 10.40 tu awan di langit kota padang bertuliskan namaNya dan rasul Nya..

subhanallah...

atm oh atm...

waduuuuuuhhhh,,,, kemarin kira2 jam 1 siang gw mo ambil duit buat OPK (ongkos pulang kampung) di atm mandiri gedung PKM unand,, eh baru aja di masukin udah gk ada tanda2 atm itu bereaksi saketek alahe..ya,, akhirnya terima nasib lah.. : KARTU ATM ANDA TELAH DITELAN PETAK-PETAK.. !!!!!
tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk.... trus gw langsung hubungin call center pengaduan yg ada ditempelin disana..kata petugas bank itu dy bakalan dtg besok(hari ini-red)
jadi bersabarlah menunggu hingga siang ini,,oke deh,,,sabar ya ky soalnya malam ini lo harus berangkat ke pekanbaru...

astaghfirullah....

memantau perkembangan pekanbaru dan riau dari riaupos.com mwpun riauterkini.com cukup bikin hati miris,,,

  • pasar cik puan

ne pasar seingat gw dari esempe,esema, mpe kuliah di luar ne tetap aja terbakar udah berapa kali ne??? kasian banget, manknya ada konspirasi gitu ya??

  • pustaka terbesar di Indonesia `soeman hs`

ne pustaka dulunya gedung dprd tk.I riau atau gedung lancang kuning tempat para wakil rakyat bersidang dan kebetulan di zaman orba ada kejadian yg sempat jadi heboh yaitu peristiwa di bulan september 1987,,tanggalnya klo gk salah tgl 13 ya? ketika itu ada pemilihan gubernur riau lewat voting calonnya : imam munandar, ismail suko, satu ge aq lupa tapi yg jelas suko unggul 2 suara ya?? dari munandar..yg jelas munandar ne pesanan pusat gitu yah jadi goncang juga dunia dulu, akhirnya ismail suko tidak jadi gubernur riau..(buku: martir demokrasi dari riau) nah itu kan banyak aspek historis nya locus delicti nya kan di gedung lancang kuning yg kemudian dialihfungsikan menjadi gedung pustaka `soeman hs`.. masalahnya sekarang kenapa gedung itu yang harus di rombak total menjadi baru lagi,,apakah tidak ada lagi tempat untuk dijadikan gedung baru?? di tempat lain kek dibikin,,di arengka atw panam .kan banyak tempat kosong nan strategis tu dari pada dijadiin semak2 ruko... aduh 0om rusli piye iki? padahal banyak juga tu kenangan aq pribadi atas pustaka tu.....a lot of beautiful memories that i can`t 4get it,,,hmppff...(alaaaahhhhh)

depkumdang BEM FHUA 2007-2008

departemen hukum dan perundang2an (depkumdang) adalah salah satu dari 6 departemen di struktural BEM FHUA 2007-2008 (kabinet Fengki-Kiking) terdiri dari :

  • menteri : M. Yusrizal AP (04)

  • sekretaris : Okky yonny syahputra (05)

  • staff : Erik sembiring (05).

Fathar effendi (05),

Revano kassendra (05),

Harry kurniawan (06)

untuk saat ini kami memiliki beberapa program kerja diantaranya Bank Undang-Undang dan konsultasi hukum, bagi rekan2 mahasiswa FHUA dapat datang langsung ke Sekretariat BEM di dekanat GB lt.2 tiap rabu jam 3 sore...kami akan menyediakan peraturan perundangan yang rekan2 butuhkan minimal 3 hari setelah permohonan.

insya allah, selesai UAS kami akan menyelenggarakan LKMM..

duh..

akhirnyaaa,,,,,,,
sebenarnya mw posting image ne yg dari googleearth,,klo gk bisa ya .....

woooowww

barusan demo soal kemaren di rektorat...yg demo tuh anak2 sekitaran gedung E dan gedung F gitu tentunya dengan para amak-amak juga..pas aksi gitu ada juga 2 orang amak2 yg jatuh pingsan,,duh kasian juga..tak lama bapak rektor datang ke kampus,karena katanya ada petinggi salah satu bank di indonesia ini yg mw beri beasiswa maka ba`da zuhur akan diadakan pertemuan di E,
selain memperjuangkan nasib amak2 juga ajimupeng eh ajimumpung!! masuk Tipi!!(alahh)
pada hari ini juga diadakan Pemira BEM KM,,gw gak ikutan hehehehe

huah,,,,,,,,,,,

assalammualaikum wr.wb.
HIDUP MAHASISWA!!!!
ceilee
baru kali ini gw posting,,,fuih kirain blog gw udah mati,,,
salam kenal bwt semuanya,,
tadi ky demo ke rektorat soal penggusuran amak2 yang biasa mangkal di sekitaran gedung F
gimana coba mereka kan udah bantu kita2 dalam hal PPPK pertolongan pertama pada kelaparan..
trus dipindahin jauh ke atas bukit di dekat barak F...
eh udah dulu ya neh dah maghrib ntar dilanjutin,,,

siaran percobaan

this is the first blog of qBoys ,please enjoy your eyes!!!

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Pages

Powered by Blogger.

Followers

About Me